Selasa, 28 Oktober 2014

Macam-macam batik menurut daerahnya




Macam-macam Batik Indonesia sangat bervariasi dan berasal dari berbagai  daerah yang tersebar di Indonesia. Batik memang identik dengan Kota Solo, Jogja dan juga Pekalongan, akan tetapi saat ini sudah dikenal batik yang berasal dari selain kota-kota tersebut. Dewasa ini dikenal pula batik yang berasal dari luar Pulau Jawa, seperti Batik Bali dan Minangkabau, bahkan ada pula Batik dari luar Indonesia seperti Batik Jepang dan Belanda. Untuk lebih mendekatkan kita kepada Batik Indonesia, mari mengenal macam-macam Batik Indonesia dari berbagai daerah:

Macam-macam Batik Indonesia berdasarkan daerah asalnya yaitu :

1. Batik Solo

 
    Sumber foto : nazlea.com


Kota Solo merupakan daerah yang dikenal dengan kerajinannya, salah satunya adalah batik. Batik Solo sudah dikenal masyarakat umum bahkan hingga mancanegara. Batik Solo setidaknya memiliki lima motif yang paling populer, yaitu motif sido asih, motif ratu ratih, motif parang kusuma, motif bokor kencana, dan motif sekar jagad. Daerah sentral batik di Kota Solo berada di kampung Laweyan.

2. Batik Jogja


   Sumber foto : kakus.co.id

Tidak hanya Kota Solo, Kota Jogja juga dikenal juga dikenal dengan kerajinan batiknya. Dahulu batik ini hanya digunakan oleh kalangan tertentu saja di Yogyakarta, seperti keluarga keraton, akan tetapi saat ini siapa saja bisa menggunakan Batik Jogja. Ada lima motof Batik Jogja yang paling populer yaitu motif kawung, motif parang kusumo, motif truntum, motif tambal, dan motif pamiluto.

3. Batik Pekalongan


   Sumber foto :batikjirolupat.com

Salah satu kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan kerajinan batiknya selain Kota Solo, Ya Kota Pekalongan dengan Batik Pekalongannya. Batik Pekalongan ini tipikal batik dari daerah pesisir yang kaya akan warna, bahkan kita bisa menjumpai satu Batik Pekalongan dengan kombinasi sekitar 10 warna sehingga terkesan atraktif namun tetap dinamis.

4. Batik Madura


    Sumber foto :batiktulisharisa.com

Mungkin anda mengenal Madura dengan perlombaan karapan sapinya? Atau mungkin karena Madura merupakan sentra penghasil garam di Indonesia? Tahukan anda kalau Madura juga terkenal dengan batiknya yang bercita rasa dan bernilai tinggi? Ya, Batik Madura. Batik Madura terlihat lebih cerah dibandingkan dengan batik kebanyak, sehingga nampak lebih berani dan tegas.

5. Batik Cirebon

 
   Sumber foto :batikcirebonan.com

Batik Cirebon atau yang biasa disebut Batik Megamendung merupakan karya seni batik dari daerah Cirebon, Jawa Barat. Batik ini unik sekali dan berbeda dengan batik kebanyakan, untuk itu Pemerintah Indonesia berusaha agar Batik Cirebon mendapatkan pengakuan sebagai salah satu World Heritage dari Indonesia dengan mendaftarkannya ke lembaga PPB, UNESCO.

6. Batik Jakarta


    Sumber foto : tokobatikjakarta.wordpress.com

Mungkin sebagian dari anda belum tahu Batik Jakarta, tapi batik asli Betawi ini memang benar-benar ada. Memang saat ini eksistensi sudah jarang kita temui, akan tetapi dulu batik ini pernah jadi idola dikalangan masyarakat ibukota. Saat ini, pamor Batik Betawi kalah jauh dengan Batik Solo dan Pekalongan, mungkin sudah saatnya kita mengembalikan kembali eksistensi Batik Jakarta.

7. Batik Bali


   Sumber foto :nazlea.com

Bali tidak hanya dikenal dengan Sarung Bali yang sudah mahsyur dan mendunia, akan tetapi Bali juga mempunya kerajinan batik. Ini membuktikan bahwa Batik Indonesia tidak hanya berada di Pulau Jawa saja, melainkan juga dipulau-pulau lainnya di Indonesia. Batik Bali sangat indah karena terinspirasi oleh pesona keindahan alam Pulau Dewata tersebut.

8. Batik Tasik


    Sumber foto :dedenbatik.com

Selain Kota Cirebon, Jawa Barat juga memiliki daerah sentra produksi batik lainnya, yaitu Kota Tasikmalaya. Batik ini dikenal dengan Batik Tasik, batik ini memiliki daya tarik tersendiri dan cukup digemari dikalangan masyarakat. Kekhasan Batik Tasik adalah warna-warnanya yang cerah dengan gambar flora-fauna yang ada disekitar Tasikmalaya seperti burung, bunga, dan lain-lain.

9. Batik Banten


   Sumber foto :laraswati.com

Provinsi Banten juga memiliki batik yang sudah dikenal masyarakat luas, khususnya dikalangan masyarakat Banten, yaitu Batik Banten. Batik Banten merupakan salah satu batik terbaik didunia dan telah mendapatakan pengakuan internasional. Salah satu keunikan Batik Banten yang tidak dijumpai pada batik-batik lainnya adalah Batik Banten ini sebagai media tell the story (menceritakan sejarah).

10. Batik Minangkabau


   Sumber foto : plus.google.com

Siapa bilang batik cuma ada di Pulau Jawa dan Bali? Pulau Sumatera juga memiliki batik tersendiri yaitu Batik Minangkabau yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Batik Minangkabau biasa disebut Batik Tanah Liek atau dalam bahasa Indonesia Batik Tanah liat, hal ini dikarenakan salah satu pewarna dalam batik tersebut adalah tanah liat. Batik ini sangat indah sekali sayangnya akan sulit untuk kita temui.

Selain kesepuluh macam-macam batik Indonesia tersebut, masih banyak lagi kerajinan batik dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batik Malang, Batik Aceh, Batik Jombang, Batik Pekalongan, Batik Tulungagung, Batik Kediri, Batik Kudus, Batik Jepara, Batik Brebes, dan batik-batik lainnya. Ini merupakan kekayaan Bangsa Indonesia yang bernilai luhur, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan budaya bangsa yang mendunia ini.

11. Batik kalimantan tengah




Motif Batang Garing
Garing Nganderang adalah sukah lampung mantan andan, bagian bawah melambangkan bumi sebagai awal kehidupan, diakhiri bagian puncak terdapat burung tinggang sebagai simbul keberadaan Tuhan. Kehidupan dunia digambarkan dengan tangkai berdaun, bulu ekor burung tinggang. Kekayaan digambarkan dengan bunga dan buah. Tombak melambangkan petunjuk jalan kebenaran. bahan satin sutra, warna coklat tua.


Sumber : http://batikkalteng.blogspot.com

PPT (Proses pembuatan batik)

http://www.slideshare.net/Dwianggrainy/proses-pembuatan-batik-40761056?qid=7411c192-dbed-493e-8a02-7c6374df32cb&v=default&b=&from_search=1

Perkembangan batik di Indonesia

PERKEMBANGAN BATIK DI INDONESIA

Pengertian Batik

Batik pada hakekatnya merupakan karya seni yang banyak memanfaatkan unsur menggambar ornamen pada kain dengan proses tutup celup. Seni lukis batik atau menyungging pada kain dengan melampaui proses tutup celup menggunakan malam sebagai penutup dan celup menggunakan pewarna cair. Batik dalam konsep Kejawen lebih banyak berisikan konsepsi-konsepsi spiritual yang terwujud dalam bentuk makna-makna simbolik.

 Seperti bentuk motif Gurdha pada batik klasik, pada awalnya adalah bentuk burung Garuda ( yang menjadi lambang negara Indonesia ), merupakan lambang kendaraan menuju Nirwana, dan menjadi kendaraan para Dewa. Sehingga pada jaman dahulu, batik motif Garuda ini hanya boleh digunakan oleh para priyagung keraton atau kerajaan, Seni lukis batik adalah seni lukis yang menggunakan media batik untuk mengungkapkan ekspresi penciptanya.

Dari segi teknik, batik di Indonesia mengalami pasang surut cara, metode serta bahannya. Sebagai contoh, batik klasik menggunakan teknik isen yang sangat rumit, sedangkan batik tradisional lebih banyak menggunakan motif-motif serta warna yang khas untuk setiap daerah. Pada masa penjajahan atau awal Kemerdekaan muncul batik becak yang teknik dan pembuatannya sangat sederhana.
Konsepsi dan ide penciptaan juga mengalami aneka perkembangan. Bermula dari konsepsi ritual magis, misalnya parang rusak, parang barong, parang kusuma yang hanya digunakan kalangan ningrat priyagung menurun sampai batik kawung dan sebagainya yang dipergunakan oleh para abdi dalem keraton atau untuk upacara perkawinan. Dilihat dari segi konsepsi dan ide, batik klasik lebih terkonsep daripada batik-batik modern. Karena batik modern lebih menampilkan konsepsi ekspresi, utilitas dan kekalayakan dalam produksi.

Asal mula Batik

Banyak sekali kesimpang-siuran dalam menentukan  asal mula batik di Jawa. Sebagian pendapat ada yang mengatakan batik berasal dari daratan India, tetapi kenyataannya teknik batik tutup celup di Jawa sangat berbeda dengan di India. Walaupun sama-sama memakai kuas atau jegul, namun dari segi penutupan berbeda sekali. Di Jawa menggunakan bahan lilin atau wax untuk menutup dan ramuan dedaunan seperti nila, soga untuk pewarnaannya. Dan pewarnaannya menggunakan teknik celupan atau rendaman.

Sedangkan di India  menggunakan teknik tutup dengan jenangan kanji atau beras ketan, dan bahan kanji akan luntur bila direndam berhari-hari atau berjam-jam, teknik ini sangat berbeda dengan yang di Jawa.Sebagian ahli banyak yang berpendapat bahwa batik berasal dari daratan Cina. Karena teknik tutup celup juga digunakan di Cina. Di Cina hanya menggunakan warana biru dan putih saja. Namun alat dan teknik yang digunakan di Cina sama dengan yang digunakan di India, menggunakan jenangan ketan dan coletan pewarnaan tidak sama dengan yang di Jawa.Namun demikian pada kenyataannya perkembangan Batik di Indonesia banyak dipengaruhi dari daratan India dan Cina.

Pengaruh Agama Hindu Pada Batik

 Sumber foto :gomarketonline.com

Pengaruh Hindu tampak pada motif kawung yang digunakan patung-patung Hindu, walaupun bila diterawang motif kawung lebih dahulu dipergunakan pada sinjangan sebelum dipahatkan pada patung-patung tersebut. Jika dilihat dari pewarnaan, warna batik klasik yang terdiri dari tiga warna ( coklat identik dengan merah, biru identik dengan warna hitam, dan kuning atau coklat muda identik dengan warna putih ) ketiga warna ini mempunyai alegori sesuai dengan konsepsi dewa Hindu, yaitu Trimurti. Coklat atau merah lambang Dewa Brahmana, atau lambang keberanian, Biru atau hitam lambang Dewa Wisnu atau lambang ketenangan, Kuning atau Putih lambang Dewa Syiwa. Kaum Brahmana menggunakan sandang berwarna putih, sedangkan kaum Ksatria dan Bangsawan menggunakan sinjangan yang bermotif dan rakyat jelata atau kaum Sudra hanya diperkenankan menggunakan warna hitam. Warna hitam menggambarkan kehidupan yang polos dan memberikan kesaksian hidup yang papa. Sedangkan kain sinjangan yang bermotif dipergunakan oleh kaum Ksatria dan Weisya adalah lambang dari kehidupan yang mempunyai idealisme yang tinggi, maka nantinya sinjangan batik yang bermotif ini hanya dipergunakan di kalangan istana. Walaupun hal ini tidak hanya dipergunakan selama masa kejayaan bangsa Hindu, namun juga berlangsung pada masa Kerajaan Majapahit, Mataram Kuna, Kartasura maupun Surakarta, Mataram Baru atau Ngayogyakarta.

Pengaruh Agama Islam Pada Batik

 

batik Pekalongan sumber gammbar :fototerbaru.org

Sengaja atau tidak sengaja ternyata agama mempunyai pola tata laku atau kebudayaan sendiri, untuk melakukan ciri khas hasil seninya. Pada masa Hindu konsepsi spiritual magis diatur oleh kaidah moral kesusilaaan sesuai dengan ajarannya. Hidupnya seni bergelimang dalam garis-garis ritual sebagai sesuatu persembahan kepada Dewa. Munculnya seni tak akan terpisah dengan sistem keagamaan dan agama memberikan pola-pola tertentu mewujudkan bentuk seninya.
Dalam agama Islam terbesit larangan membuat gambar dan patung, seperti yang dikatakan dalam Hadis Buchori “Sesungguhnya orang yang mendapat siksa oleh Allah adalah orang-orang yang membuat gambar” Larangan ini ditujukan pada karya seni yang bermotifkan mahluk hidup, dengan harapan agar tidak ternjadi persekutuan terhadap Allah. Munculnya Islam memberikan kematangan penciptaan bentuk-bentuk ornamentis yang menjadi kaidah dalam penciptaan batik dan seni batik. Motif parang diubah dengan kombinasi bernagai bentuk lar serta pewarnaan yang modern menjadikan batik sinjangan tetap lestari.
Perkembangan daerah Lasem, Bayat, Pekalongan, Wonogiri dan yang lainnya bermuara pada seni batik yang dimasak oleh Islam. Gaya ornamentis pohon beringin, rumah, motif manusia gunungan mahameru ditebarkan sedemikian rupa pada sinjangan yang bergaya ornamentis jadilah motif semen. Namun tidak meninggalkan pola lama yang bersifat keburbakalaan seperti kawung, hiasan permadani digubah menjadi motif truntum seperti sekarang ini.
Islam memberikan gaya ungkapan ekspresif yang berbeda dengan pola sebelumnya, bentuk-bentuk ornamentis tersebut justru memberikan kesempatan hidup seni ornamen pada ukir kayu, ukir logam, dan batik.

Kraton Sebagai Pusat Pelestarian dan Peningkatan Masa Keemasan

batik Solo sumber gambar:fototerbaru.com

Seni Kraton atau seni gedongan tak lepas pembicaraannya dengan seni Hindu dan seni Islam, sebab keduanya terasa masih hidup dalam tembok istana. Pranataraja yang membagi masyarakat dalam gradasi sosial, juga memberi potentensi dalam kelestarian seni batik. Sehingga timbul seni untuk raja, seni untuk priyagung, seni untuk rakyat kawula alit, serta mengidentifikasi kesenian lain sebagai kesenian monco, sampai sekarang.
Dalam konsepsi sosiolagi Jawa, pranata kerajaan mendirikan kerangka tata laku masyarakat. Kraton sebagai pusat kotaraja merupakan muara dari pencipta seni sebagai bentuk kesenian tradisional, serat mayarakat ndeso sebagai penikmatnya. Munculnya pola-pola atau motif batik tradisional berpusat dari dalam tembok kerajaan, merupakan usaha untuk menarik suatu karya dianggap sebagai “top of moment esthetic” yang nantinya diangkat atau diklaim sebagai milik keagunan raja. Namun dampak negatifnya setelah batik masuk kalangan istana orang lain tidak diperkenankan mempergunakannya.
Kekuasaan raja serta pola laku masyarakat dipakai sebagai landasan penciptaan batik, sehingga timbul adanya konsepsi adanya batik klasik dan batik tradisional. Dalam hal ini ukuran klasik adalah preogatif raja mengklaim karya seni tradisional masyarakat Kotaraja menjadi batik klasik.
Konsep klasik menurut masyarakat Jawa adalah penetapan karya seni yang baik, sesuai dengan kaidah atau moral kerajaan. Kemudian diundangkannya kepada rakyat sebagai klarifikasi penggunaan karya seni. Batik sebagai barang produksi dan barang seni, mempunyai kedudukan dan sebutan seperti halnya seni klasik yang lain. Sebagai contoh : motif parang baron dipergunakan sebagai sinjangan seorang raja, dan sudah menjadi ketetapanyang sah dan tak dapat dilanggar masyarakat dalam hal pemakainya. Peranan pelestarian batik oleh kerajaan dengan cara memberikan sugesti yang tinggi terhadap pemakai sinjangan batik, penganugerahan sinjangan batik kepada punggawa terkemuka sebagai tanda derajat kepadanya. Seperti Raden Widjaja menganugerahkan sinjangan batik “Lancingan Gringsing” kepada Senopati Agung yang telah berperang mati-matian. Dan hal itu masih berlangsung sampai sekarang.

Pengaruh Bangsa Lain Dalam Perkembangan Batik


Peranan bangsa asing terhadap perkembangan batik di Jawa, usaha itu bisa dilakukan secara kelompok maupun perorangan, baik sebagai kolektor maupun sebagai pedagang, telah dilakukan oleh orang-orang Belanda dan Portugal. Seorang pengusaha batik berkebangsaan Jerman yang bernama Gothlieb, akhirnya mengembangkan batik berdasarkan tingkat pembuatannya, diantaranya disebutkan :
(1) Batik tulis
(2) Batik cap yang diterusi dengan tulis.
(3) Batik cap, seluruh pengerjaan penutupan dengan cap.
Batik Sebagai Media Ekspresi

Menurut etimologi, Batik merupakan rangkaian kata ‘mbat‘ dan ‘tik’, ‘mbat’ dalam bahasa Jawa diartikan ‘ngembat’ atau melempar berkali-kali, sedangkan ‘tik’ berasal dari kata titik. Jadi membatik berarti melempar titik berkali-kali pada kain. Sehingga lama-lama titik-titik itu berhimpitan membentuk garis dan motif. Dengan menggunakan canting dan malam sebagai bahannya.Batik disebut sebagai karya tulis, karena teknik membatik dengan menggunakan alat canting yang dapat mengeluarkan cairan berupa malam dan dikerjakan seperti layaknya orang menulis, dalam bahasa krama inggil kata ‘nyerat’ diterjemahkan sebagai tulis atau menulis dan lukis atau melukis. Seni membatik adalah seni melukis, seorang pembatik mempunyai kemampuan melukiskan ornamen-ornamen (motif). Membatik diidentikan dengan melukis ini berlaku untuk batik tulis.

Demikian sejarah Perkembangan Batik di Indonesia ,khususnya di Jawa yang dapat penulis rangkai dari beberapa sumber , semoga bermanfaat bagi para pecinta batik dan pecinta seni pada umumnya, dalam rangka ikut melestarikan budaya bangsa yang semakin tersisih dengan budaya asing yang semakin deras menggerus peradaban bangsa Indonesia.
Penjelasan beberapa istilah :
sinjangan = jarik = kain yang biasa digunakan wanita Jawa .
utilitas = kegunaan praktis
priyagung = anggota keluarga keratin


Sumber : (http://blogbatikmuda.blogspot.com)

Sejarah batik di Indonesia

SEJARAH BATIK DI INDONESIA

Sejarah Batik di Indonesia memiliki riwayat yang panjang. Di setiap wilayah di Nusantara, batik memiliki perkembangan dan kisah yang menarik. Keberadaan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang besar, makmur, dan mengalami masa kejayaan selama beberapa abad telah membuat tradisi dan kebudayaannya mengakar kuat di wilayah Nusantara, termasuk di antaranya seni batik.

Sampai saat ini, sebenarnya kapan batik mulai tercipta masihlah menjadi tanda tanya. Namun, motif-motif batik di Indonesia dapat ditemukan pada beberapa artefak budaya, seperti pada candi-candi.Motif dasar lereng dapat ditemukan pada patung emas Syiwa (dibuat abad IX) di Gemuruh, Wonosobo. Dasar motif ceplok ditemukan pada pakaian patung Ganesha di Candi Banon dekat Candi Borobudur (dibuat abad IX). Batik juga ditemukan pada titik-titik dalam motif pada patung Padmipani di Jawa Tengah (menurut perkiraan patung tersebut dibuat awal abad VIII-X). Motif liris ditemukan pada patung Manjusri, Ngemplak, Semongan, Samarang (dibuat abad X).

SEJARAH 4 MACAM BATIK DI INDONESIA:

1.   SEJARAH BATIK JOGJA


    Sumber foto :magz.smktelkom-mlg.sch.id


Seni Batik Tradisional dikenal sejak beberapa abad yang lalu di tanah Jawa. Bila kita menelusuri perjalan perkembangan batik di tanah Jawa tidak akan lepas dari perkembangan seni batik di Jawa Tengah. Batik Jogja merupakan bagian dari perkembangan sejarah batik di Jawa Tengah yang telah mengalami perpaduan beberapa corak dari daerah lain.

Perjalanan “Batik Yogya” tidak bisa lepas dari perjanjian Giyanti 1755. Begitu Mataram terbelah dua, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, busana Mataram diangkut dari Surakarta ke Ngayogyakarta maka Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru dan pakaian adat Kraton Surakarta berbeda dengan busana Yogya.

Di desa Giyanti, perundingan itu berlangsung. Yang hasilnya antara lain , Daerah atau Wilayah Mataram dibagi dua, satu bagian dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB II di Surakarta Hadiningrat , sebagian lagi dibawah kekuasaan Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang setelah dinobatkan sebagai raja bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Ngabdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang jumeneng kaping I , yang kemudian kratonnya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat.

2.   SEJARAH BATIK JAWA



    Sumber foto :kaskus.co.id

Membatik pada mulanya merupakan salah satu kegiatan tradisi keluarga yang turun temurun. Pemilihan motif yang akan dibuatkan batiknya disesuaikan dengan keperluan pemakainya.

Pada awalnya motif-motif batik juga diciptakan menurut fungsi dari para pemakainya dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi sangatlah mungkin kalau dari suatu motif akan dapat dikenali dari keluarga mana si pemakainya berasal.
Misalnya motif-motif Parang Barong yang pada awalnya hanya digunakan oleh para Raja. Motif Parang sesungguhnya menggambarkan senjata, kekuasaan. Selaras dengan makna yang ada dalam motif Parang Barong, maka Ksatria yang menggunakan batik ini bisa berlipat kekuatannya.

3.   SEJARAH BATIK MADURA


    Sumber foto : batiktulisharisa.com

Batik Madura merupakan kerajinan yang bernilai seni tinggi. Batik Madura sudah menjadi warisan budaya Indonesia. Corak dari batik Madura sendiri tak lepas dari pengaruh budaya asing seperti Cina. Warna cerah merupakan salah satu campur tangan dari orang-orang tionghoa.Seiring perkembangan jaman, batik semakin populer dan digemari banyak orang. Tak hanya dari orang tua, namun anak muda juga banyak yang menyukai batik Indonesia. Batik Madura yang kaya akan coraknya serta motif tak mau kalah dengan batik dari wilayah Indonesia yang lain. Sekarang ini, banyak dijumpai batik Madura yang memiliki motif kontemporer dan corak serta warna yang beragam.

Selain berbagai motif dan corak yang beragam, batik Madura juga mempunyai berbagai jenis. Diantaranya adalah jenis batik Gentongan. Batik gentongan ini memiliki harga yang tak murah. Namun meski demikian, batik ini selalu diburu oleh kolektor maupun penggemar batik. Batik ini diberi nama gentongan karena pada proses pembuatannya, ada sebuah alat yang sangat memperngaruhi yaitu gentong atau gerabah. Alat gentong atau gerabah ini digunakan pada saat proses pewarnaan dengan bahan pewarna alami seperti kulit mengkudu, kulit mundu, kulit buah jelawe, kayu jambal, kayu jirek, dan yang lainnya.

Proses pewarnaan ini juga tergolong lama yaitu sekitar 3 sampai 6 bulan. Maka batik ini tergolong batik yang mahal karena dalam pembuatan selembar batik ini diperlukan waktu 1 tahun untuk menyelesaikannya. Cirri dari batik gentongan adalah warna yang berani, corak bahari seperti kapal, rumpt laut, dan sebagainya. Yang menarik dari batik gentongan adalah sekilas batik ini terlihat basah, namun jika dipegang, teksturnya halus dan kering.

4.   SEJARAH BATIK JAKARTA

 
   Sumber foto :tokobatikjakarta.wordpress.com

Pembatikan baju batik di Jakarta dikenal dan berkembangnya bersamaan dengan daerah-daerah pembatikan busana batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-XIX. Pembatikan baju batik ini dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanyakan didaerah-daerah pembatikan busana batik. Daerah pembatikan model batikyang dikenal di Jakarta tersebar didekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet.Jakarta sejak zaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan batik modern antar daerah Indonesia dengan pelabuhannya Pasar Ikan sekarang. 

Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan cap mode batik mulai dikenal, produksi model busana batik meningkat dan pedagang-pedagang batik modern mencari daerah pemasaran model batik baru. Daerah pasaran untuk penjual batik tekstil atau batik online dan penjual baju batik di Jakarta yang terkenal ialah: Tanah Abang, Jatinegara dan Jakarta Kota, yang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sejak dari dahulu sampai sekarang. Penjual busana batik-batik produksi daerah Solo, Yogya, Banyumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaya, Ciamis dan Cirebon serta lain-lain daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim ke penjual batik dan batik online daerah-daerah diluar Jawa. 

Pedagang-pedagang mode bajubatik yang banyak ialah bangsa Cina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan kecil.Oleh karena pusat pemasaran mode busana batik sebagian besar di Jakarta khususnya Tanah Abang, dan juga bahan-bahan baku mode batik diperdagangkan ditempat yang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang-pedagang model busana batik itu untuk membuka perusahaan penjual baju batik di Jakarta dan tempatnya ialah berdekatan dengan Tanah Abang. 

Pengusaha-pengusaha penjual busana batik yang muncul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa cina, dan buruh-buruh batiknya didatangkan dari daerah-daerah pembatikan Pekalongan, Yogya, Solo dan lain-lain. Selain dari buruh mode baju batik luar Jakarta itu, maka diambil pula tenaga-tenaga setempat disekitar daerah pembatikan sebagai pembantunya. Berikutnya, melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerja baru, maka penduduk asli daerah tersebut juga membuka perusahaan-perusahaan mode busana batik. Motif dan proses batik Jakarta sesuai dengan asal buruhnya didatangkan yaitu: Pekalongan, Yogya, Solo dan Banyumas.
Bahan-bahan baku batik yang dipergunakan ialah hasil tenunan sendiri dan obat-obatnya hasil ramuan sendiri dari bahan-bahan kayu mengkudu, pace, kunyit dan sebagainya. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya warnanya sama dengan batik Banyumas. Sebelum perang dunia kesatu bahan-bahan baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinya di Pasar Tanah Abang dan daerah sekitar Jakarta.


Sumber : www.slideshare.net